
Pengemis saat ini adalah problema kota-kota besar seperti
“menjelang akhir tahun 2007 di Batam entah darimana datangnya mereka sudah mangkal dipersimpangan jalan sambil menengadah tangan untuk meminta belas kasihan berharap orang yang lewat memberikan pecahan uang Rp500 atau ribuan dan tidak sedikit juga yang memberi pecahan Rp5000. sebagian pengemis memang memprihatikan secara penampilan dan tidak sedikit juga yang masih segar dan sehat, badan mereka saja gemuk. ternyata penghasilan mereka tidak sedikit selama 8 jam kerja mulai dari jam 7 pagi sampai jam 5 sore dan siang hari mereka juga isterahat dan mulai mengemis jam 3 sore, menurut introgasi yang dilakukan oleh pihak kepolisian batam rata rata gepeng atau pengemis mampu mengantong hasil mengemis sebanyak Rp 276.000/ hari.”
“Rekans semua, saya sempat kaget ketika melihat ada pengemis [cewek masih muda] yang memakai hape di lingkungan MRB. kejadiannya sekitar pertengahan agustus 2007. dalam hati kecil saya berkata "pantaskah seorang pengemis menggunakan hape? ataukah mengemis sudah dijadikan pekerjaan tetap?". alangkah sangat disayangkan bila ada pengemis yang yang menjadikan mengemis sebagai "profesi"..
saya tidak menyalahkan mengemis karena faktor keterbatasan fisik.”
“Cak To tergolong pengemis yang mau belajar. Bertahun-tahun mengemis, berbagai ”ilmu” dia dapatkan untuk terus meningkatkan penghasilan. Mulai cara berdandan, cara berbicara, cara menghadapi aparat, dan sebagainya.Makin lama, Cak To menjadi makin senior, hingga menjadi mentor bagi pengemis yang lain. Penghasilannya pun terus meningkat. Pada pertengahan 1990, penghasilan Cak To sudah mencapai Rp 30 ribu sampai Rp 50 ribu per hari. ”Pokoknya sudah enak,” katanya. Sebenarnya, Cak To tak mau mengungkapkan jumlah setoran yang dia dapatkan setiap hari. Setelah didesak, dia akhirnya mau buka mulut. Yaitu Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu per hari, yang berarti Rp 6 juta hingga Rp 9 juta per bulan.”
“Bungaran Simajuntak, antropologis dari Universitas Negeri Medan, sekarang sudah tidak aneh lagi karena penghasilan pengemis mencapai Rp 55,000 perhari atau jika dijumlahkan. perbulan dapat mencapai Rp 1,650,000 melebihi Upah Minimum Provinsi (UMP) Sumatera Utara yang hanya Rp800,000 perbulan.”
“Sekitar90 persen pengemis di Arab Saudi adalah para pendatang dari mancanegara yang sebagiannya tinggal secara tidak sah setelah masa berlaku visa haji atau umrah kedaluarsa (over stay), dan di kalangan anak-anaknya ada yang bisa berpenghasilan mencapai Rp8 juta per bulan.”
Kalau dah begini siapa gak pengen jd pengemis.. acting.. dapat uang deh.. banyak lagi, gak perlu capek-capek.. btw Gaji anda berapa?
Solusinya gimana?
PERDA?
“Sementara itu Ristiawati, anggota legislatif Sumatera Utara komisi E merasa skeptis peraturan ini berhasil menekan angka pengemis yang ada di Sumatera Utara.”
ANDA PUNYA SOLUSI? KIRIM KEMARI.. MARI KITA PIKRKAN BERSAMA UNTUK MEMAJUKAN BANGSA KITA INI..APAKAH KARENA PEMERINTAH GAGAL MENEKAN ANGKA KEMISKINAN? APA KARENA KEKACAUAN GLOBAL? APA KARENA KITA? ATAU KARENA AGAMA KITA? KEMANA KITA BERSEDEKAH/BERZAKAT?? MARI KITA BERANTAS KEMISKINAN DAN SIFAT YANG MEMISKINKAN!!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar