Setelah
miqat di pesawat kita menuju Mekkah tentunya dengan prosesi imigrasi yg lamban di airport Jeddah, dari Jeddah menuju Mekkah, jaraknya kurang lebih 50 menit.
Sampai
di Hotel Hilton bintang 5, kita istirahat 15 menit, waktu itu jam menunjukkan
jam 2 pagi, kita wudhu lalu ngumpul dilobi untuk menuju Masjidilharam, jaraknya
sangat dekat karena hotel kami dipelataran masjid. Dengan dibimbing muthawif
(ustaz) kita melakukan umrah (tawaf 7 kali dan sai 7kali + tahalul). Waktu itu masih sepi..eh kita solat subuh deh
setelah itu.
Hilton Mekkah
Setelah
prosesi umrah maka kami memasuki hari haji, hari haji itu hari-hari dimana
kita akan:

1.Mabid
di Mina
2.Wukuf
di Arafah
3.Mabid
di Muzalifah
4.Kembali
Mabid di Mina (lempar jumarat)
di Mekkah
pada waktu itu sudah ada hotel Zam-zam, namun belum ada tower big band....(jam
raksasa), masih ada bindawood dan Intercont Hotel...klo mo shoping biasanya
kita ke bindawood atau mall di zam-zam tower.
Ust.
Pembimbing kami namanya ust. makruz dan dainya adalah KH. Agus Salim, salah
satu pengurus ICMI dan Deputi Menteri Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal.
Kami
dibimbing setiap kali umrah, namun ketika kita minta ijin melakukan tawaf
sendirian maka diperbolehkan. Sholat Shubuh, Zuhur, Ashar, Magrib dan Isya kami
melaksanakan di Masjidil Haram
Mengenai
makanan, disekitar masjid banyak yang menjual makanan, namun mayoritas makanan
adalah sandwich dan makanan timur tengah, tetapi kalo mau makanan tanah air
juga ada yang menjualnya, jadi tidak usah khawatir dan tidak usah banyak-banyak
bawa makanan dari Indonesia, cuma bikin capek dan males di pemeriksaan bandara saja.
salah satu bis di Saudi
Setelah
2 hari kurang lebih di Mekkah, kita menuju mina mengunakan bis yang disupiri oleh mukimin Indonesia, alhamdulillah banget karena driver kami orang sendiri buka orang mesir atau India yang kurang faham dengan adat kita. kami ditempatkan di apartemen terdekat dengan
Mina, untuk mabid, selama diapartemen hanya diisi oleh orang kita (satu lantai)
dan dibawahnya di tempati oleh orang Afrika Selatan (mayoritas keturunan India)
di apartemen kami juga disediakan makanan Indonesia, minuman, kopi, teh yang
cukup (bahkan berlebihan) oleh PT. BALDA
Sore
harinya kita diajak untuk melihat ke tenda kita di Mina, dekat kok, cuma 1km (yang tidak sanggup boleh tinggal di
apartemen), namun esok harinya kita semua beranjak ke Mina untuk mabid didalam
tenda yang sudah disediakan muasasah yang berkerjasama dengan PT.BALDA tentunya
lagi-lagi kita disediakan makanan dan minuman yang berkecukupan.
Waktu
itu BB baru-baru aja keluar, penulis
belum punya waktu itu hehehehe...masi pake Nokia... :p, maka dimina pun menjadi
ajang narsis untuk foto-foto dengan memakai ihram, oh iya kondisi wc di Mina
cukup banyak, tapi ya tetep aja ngantri, usul dari saya jangan banyak-banyak
minum teh dan makan-makanan yang karbonya tinggi, bisa-bisa sering kebelakang
deh.
WCnya disana menggunakan wc jongkok dan selang semprot (untuk yang disability pake wc duduk) untuk mandi disarankan cukup 1 kali sehari, jangan lebih. Selain rempong, juga membuat kulit kering di musim dingin, klo kering bisa gatel trus jadi infeksi.Sering-seringlah pakai pelembab.

Setelah wukuf dan terbenamnya matahari maka seluruh jamaah haji yang telah wukuf pada hari itu melanjutkan mabid di Muzalifah, namun kebanyakan jamaah saking macetnya perjalanan dari Muzalifah menuju Mina mabid dilakukan di dalam bis. Dalam perjalanan di Muzalifah kita disunahkan mengambil batu di Muzalifah untuk melempar jumarat. Sebenarnya batu jumarat tidak harus diambil di Muzalifah tapi disunahkan diambil di tanah haram, yakni muzalifah dan disekitar tanah masjidil haram. Pertanyaanya apakah boleh ambil batu di Mina saja? Jawabnya BOLEH. Selama di perjalanan menuju Mina cukup padat dan macet bisa berjam-jam, bahkan penulis akhirnya menyiapkan botol aqua untuk BAK didalam bis.
mengambil batu di Muzalifah
Sesampainya di Mina kita masuk tenda, tetap beribadah, berdo'a dan mendengarkan tausiah KH.Agus Salim. Waktu itu kita berdekatan dengan tenda jamaahnya aa' gym jadi kita gunakan momen tersebut untuk berfoto-foto dengan aa’ gym.
Di mina
kita mabid sambil menunggu waktu untuk lempar jumarat. Alhamdulillah lokasi
tenda kita berdekatan dengan tempat lempar jumarat. Kurang lebih 500 m. Waktu itu,
lokasi lempar jumarat telah berubah dari yang Cuma 2 tingkat menjadi
bertingkat-tingkat. Bagi yang disability dapat menggunakan lift untuk mencapai
tingkatan yang sepi untuk pelempar batu kepada syaithon, sedangkan yang sehat
disediakan eskalator. Waktu yang dijadwalkan bagi WNI adalah bukan pada jam-jam
sunahnya melempar jumarat, yakni pada ba’da shubuh s.d waktu dhuha. Saking
sepinya pelempar jumarat, kita dapat berfoto2 ria waktu melempar batu kepada
syaithon dengan bermacam gaya. Apakah ini syah? Wallahu’alam. Selesai prosesi
lempar jumarat kita bebas dari bersuci (berihram) 50% dengan cara
tahalul/memotong kuku, kenapa 50% karena masi tidak diperbolehkan berhubungan
suami istri, sebelum dilakukannya
Masjidilharam
Malamnya
kita ke Masjidil haram untuk melakukan thawaf haji dan sai. Selesai itu
terbebas 100% dari berihram, dapat melakukan hubungan suami istri. Selesai
tawaf kita kembali ke Mina untuk mabid melanjutkan lempar jumarat.
Balda melakukan lempar jumarat dengan nafar awal,
yakni hanya dua hari saja untuk lempar jumarat, maka total batu yang disiapkan adalah
49 butir.
Rincian batu tersebut sebagai berikut:
- Tujuh butir batu untuk melempari Jamrah Aqabah pada Hari Nahar. Karena hanya melontar Jumrah Aqabah saja.
- 21 butir batu dilemparkan pada hari ke-2. Karena jamarat yang akan dilontar ada tiga buah, masing-masing tempat jumrah dilempar dengan tujuh batu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar