
Momen bersejarah tengah menanti Barack Obama. Pada 20 Januari hari ini, Obama akan diambil sumpahnya sebagai Presiden AS kulit hitam pertama. Dalam pelantikan itu, Obama akan menyampaikan pidato yang ditunggu-tunggu rakyat AS. Lewat pidato itu, Obama dihadapkan pada tantangan untuk meyakinkan rakyat Amerika bahwa mereka bisa bangkit dari krisis ekonomi yang tengah melanda AS dan dunia.
Pidato penting tersebut akan disampaikan Obama di gedung U.S. Capitol usai pengambilan sumpahnya. Pidato itu akan memberikan kesempatan baginya untuk menyampaikan tujuan-tujuan Gedung Putih di depan lautan manusia yang menonton. “Pidato itu akan menggambarkan momen di mana kita saat ini dan semangat lebih kuat yang harus dimunculkan dari krisis ini,” kata juru bicara Obama, Nick Shapiro.
Untuk mempersiapkan pidatonya, Obama telah membaca pidato-pidato pelantikan dari presiden-presiden terdahulu AS. Menurut Obama, fan setia mantan presiden AS Abraham Lincoln, pidato Lincoln merupakan yang terbaik. Diikuti kemudian oleh pidato mantan presiden John F Kennedy.
“Tugas saya di pidato ini adalah mengingatkan masyarakat akan jalan yang telah kita lalui dan masalah luar biasa yang telah berhasil kita atasi,” kata Obama seperti dilansir kantor berita Reuters, Senin (19/1). “Kita telah melewati masa-masa yang lebih sulit dan kita akan melalui ini,” imbuhnya. Menurut Michael Anton, bekas penulis pidato Presiden George W Bush, Obama perlu menghindari untuk membuat terlalu banyak janji pada pelantikan 20 Januari. “Saya pikir dia perlu menenangkan ekspektasi-ekspektasi tersebut,” pungkasnya.
PELANTIKAN OBAMA MOMENTUM PERDAMAIAN DUNIA
Pelantikan Barack Obama selaku Presiden Amerika Serikat ke-44 pada Selasa (20/1) di Washington DC, diharapkan menjadi momentum bagi agenda perdamaian dunia setelah Obama berkomitmen mengutamakan “jalan baru” bagi AS.
Menurut Ketua Syahganda Center, Syahganda Nainggolan, di Jakarta, Senin, “jalan baru” bagi AS di bawah kepemimpinan Barack Obama itu di antaranya menciptakan kekuatan yang lebih demokratis, manusiawi, serta menjunjung harkat perdamaian di lingkungan internasional.
“Jika tidak, Obama sama saja dengan pendahulunya George Walker Bush, yang banyak memilih konfrontasi sekaligus menimbulkan peperangan di negara lain,” kata mantan Direktur Eksekutif Center for Information and Development Studies (CIDES) itu.
Namun Syahganda meyakini, Obama memiliki sikap yang rasional dan terbuka pada keinginan masyarakat internasional untuk terciptanya perdamaian maupun penghargaan pada nilai kemanusiaan. Karenanya sikap itu tidak akan menjadikan Obama mengedepankan politik represif ataupun peperangan terhadap negara manapun.
“Apalagi, latarbelakang Obama yang multikultur merupakan modal terbesar yang dapat membuatnya lebih menghormati upaya damai dan kemanusiaan. Jadi, Obama dimungkinkan lebih berlaku adil pada permasalahan dunia,” kata Syahganda.
Lebih lanjut dia mengatakan bahwa AS di bawah Obama hendaknya juga fokus pada hubungan dengan dunia Islam, mengingat besarnya harapan di kalangan negara Islam dalam mendapatkan perhatian politik Obama, di samping keinginan masyarakat Islam sendiri membangun persahabatan yang erat dengan pemerintahan Obama.
Dalam kaitan tersebut, kata Syahganda, Obama tidak perlu memusuhi negara Islam yang memang menghendaki persahabatan dengan Obama.
“Tidak ada keinginan sedikit pun negara-negara Islam untuk berhadapan dengan Obama,” ujar Syahganda yang juga caleg nomor urut lima Partai Golkar Daerah Pemilihan Jawa Barat V untuk Kabupaten Bogor.
Sementara menyangkut krisis Palestina di jalur Gaza, pemerintahan AS pasca Bush harus lebih tegas menyelesaikan penderitaan kemanusiaan yang menyebabkan ribuan warga Palestina dibantai oleh tentara Israel, baik dengan jalan damai atau pembelaan terhadap nasib warga Palestina.
“Penyelesaian damai dan keadilan bagi warga Palestina menjadi kunci terbukanya hubungan erat Obama dengan negara-negara Islam di dunia,” ujar Syahganda.
Dengan demikian, tambahnya, jalan baru agenda perdamaian yang ingin dimulai Obama juga akan diikuti dukungan berbagai negara Islam di seluruh dunia.
Obama Beri Penghormatan kepada Martin Luther King
Sehari sebelum pelantikan, presiden terpilih Barack Obama memberikan penghormatan kepada mendiang pemimpin pembela hak-hak sipil Amerika Martin Luther King, Senin (19/1). Penghormatan itu dilakukan Obama sebagai bentuk penunjukan sikapnya yang berjanji akan menghidupkan kembali semangat pengorbanan dalam mengatasi krisis ekonomi dan perang di masa pemerintahannya kelak.
Pada Minggu kemarin, Obama juga sempat berpidato di Tugu peringatan Lincoln, yang dipersembahkan bagi mantan presiden terbunuh Abraham Lincoln yang membawa AS keluar dari Perang Saudara dan penghapusan perbudakan. “Dalam sejarah bangsa kita, hanya generasi bersatu yang mampu menghadapi serangkaian tantangan separah yang kita hadapi saat ini. Bangsa kita sedang dalam perang. Ekonomi kita sedang dalam krisis. Saya tidak ingin berpura-pura bahwa menghadapi siapapun dalam tantangan ini adalah mudah. Akan dibutuhkan waktu lebih dari sebulan atau setahun dan sepertinya akan menghabiskan banyak biaya,” papar Obama dalam pidatonya seperti dilansir AFP. “Tetapi jangan pernah lupa bahwa karakter sebenarnya bangsa kita terungkap tidak pada waktu-waktu nyaman dan mudah, namun oleh karena hal benar yang kita lakukan di masa-masa sukar. Saya minta anda membantu mengungkap karakter tersebut sekali lagi, dan bersama kita bisa maju ke depan sebagai satu bangsa dan satu pribadi, warisan nenek moyang kita yang kita rayakan hari ini,” imbuhnya. (detikcom/AFP/Ant/LBN/y)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar